Minggu, 14 Oktober 2012

asal mula alam semesta


ASAL MULA ALAM SEMESTA

          Ada beberapa pendapat yang mengungkapkan tentang asal mula terjadinya alam semesta, yaitu “teori big bang” dan “teori ciptaan sinambung” atau “keadaan tetap”. Menurut teori keadaan tetap, alam semesta selalu berada dalam keadaan seperti yang dilihat pada saat ini. Saat galaksi-galaksi bergerak menjauh, materi baru muncul di daerah-daerah yang ditingalkan oleh galaksi tersebut dan membentuk galaksi baru. Namun, teori ini tidak menjelaskan dari mana materi-materi yang muncul ini berasal dan teori ini tidak diterima dan tidak sepopuler teori big bang di kalangan ilmuwan dewasa ini.
Umumnya para ahli astronomi percaya bahwa alam semesta lahir sekitar 13 miliar tahun yang lalu, melalui suatu ledakan besar yang disebut big bang (ledakan dahsyat). Semua zat dalam proses itu dahulu berbentuk suatu massa yang padat, yang menyerupai sejenis “atom” raksasa, kemudian massa ini meletus, membentuk suatu bola api yang sangat besar. Mula-mula alam semesta merupakan kumpulan energy yang luar biasa termampat di dalam ruang yang teramat kecil.namun, dalam waktu sepersekian detik alam semesta berkembang luas. Alam semesta mengalami pemekaran secara tiba-tiba, dari ruang sekecil ujung jarum menjadi ruang yang lebih besar dari sebuah galaksi. Sejak saat itu alam semesta terus mengembang tanpa henti.
            Energy yang tercipta dalam big bang beralih wujud menjadi partikel-partikel atom. Dalam waktu tiga menit, suhu telah merosot dari  menjadi satu miliar oC dan terus menunjukkan gejala pendinginan. Pada waktu itu alam semesta masih terdiri dari 77 persen hydrogen dan 23 persen helium.
            Ketika mencapai usia 300000 tahun, alam semesta yang hingga saat itu masih berbentuk seperti sup kental mulai jernih dan tembus pandang. Suhunya merosot hingga 3000 oC. sekitar semiliar tahun setelah big bang, gravitasi menarik hydrogen dan helium menjadi pusaran awan. Pusaran bola-bola gas mulai terbentuk dan lahirlah banyak bintang dan galaksi perdana.
            Galaksi, yang tersebar di alam semesta, adalah kumpulan dari ratusan ribu atau bahkan miliaran bintang, gas, serta debu yang terkelompok bersama karena pengaruh gravitasi. Menurut para ahli perbintangan, bahwa dua galaksi dapat menyatu untuk membentuk satu galaksi besar baru Tumbukan antarmassa galaksi dapat terjadi secara langsung (berhadapan muka) atau dari jarak tertentu. Para ahli menduga bahwa galaksi-galaksi akan terus saling menggabung dengan cara seperti ini sehingga di masa depan jumlah galaksi akan berkurang, walaupun ukuran rata-ratanya kian besar. Galaksi yang kita tempati kini adalah Bimasakti (kabut susu), galaksi ini berbentuk spiral putus-putus. Bimasakti terdiri dari 200 miliar bintang. Galaksi bimasakti berukuran bentang 100000 ly(light years/tahun cahaya) dan ketebalan maksimum 2000 ly.
            Bintang di alam semesta masing-masing berupa bola panas dan pijar yang mengalami perubahan ukuran, suhu, dan warna selama masa hidupnya. Bintang tersusun dari gas-gas yang sama dengan gas-gas penyusun atmosfer bumi. Gas-gas tersebut diikat oleh gravitasi. Di dalam inti bintang, hydrogen berubah wujud menjadi helium. Bintang-bintang seperti matahari, punya daur hidup tertentu. Bintang lahir dari nebula gas dan debu. Ketika terjadi reaksi nuklir, sinar terpancar keluar dari bintang. Ketika reaksi nuklir berhenti, bintang akan runtuh dan meledakkan diri dalam suatu ledakan supernova, yang hanya meninggalkan bagian inti. Istilah supernova berasal dari perubahan kenampakan bintang yang terjadi secara mendadak. Ledakan tersebut tampak bagaikan bintang baru yang bersinar benderang di langit. Masa depan dari sisa inti bintang bergantung pada massanya. Bintang yang bermassa tiga kali lebih besar dibanding massa matahari akan terus runtuh hingga berubah menjadi lubang hitam. Bintang yang bermassa lebih kecil dibanding massa matahari akan berubah menjadi bintang neutron mungil.
 Matahari tergolong bintang urutan utama, karena akan terus bersinar selama miliaran tahun hingga saat hidrogennya habis dan menjadi bintang tua berukuran raksasadan berwarna merah, lalu pela-pelan membuang lapisan terluarnya ke ruang angkasa. Yang tersisa hanya bagian inti yang terus menyusut, hingga menjelang kematian. Tubuhnya yang kecil dan panas akan mendingin dan menyusut menjadi benda kerdil berwarna putih, yang akhirnya mendingin dan menjadi si kerdil hitam yang mati.
Matahari terbentuk dari nebula, semacam awan kabut gas bercampur debu sekitar lima miliar tahun silam di galaksi bimasakti. Matahari akan terus bersinar selama miliaran tahun mendatang. Namun, dalam jangka waktu lima miliar tahun ke depan matahari akan membengkak menjadi bintang merah raksasa. Bumi akan memanas, airnya akan menguap, dan segala bentuk kehidupan punah. Matahari akan mekar sedemikian besar sehingga ia akan menelan planet merkurius dan venus, dan bumi berada di dalam lingkup atmosfernya.
            Para astronom ada yang berpendapat bahwa alam semesta akan terus mengembang, bertambah besar, dan kian mendingin. Akhirnya semua bintang akan mati dan alam semesta akan dingin dan gelap. Ketika galaksi-galaksi bergerak saling menjauh, gravitasi dari galaksi yang satu akan menarik galaksi yang lain sehyingga melambatkan laju pengembangan atau pemekaran.
Namun, beberapa ahli kosmologi lain menduga bahwa dalam waktu beberapa triliun tahun, gravitasi akan melambatkan dan menghentikan laju pemekaran galaksi, hingga akhirnya berhenti pada batas ukuran tertentu. Gravitasi akan menarik galaksi-galaksi sehingga saling merapat. Alam semesta akan menyusut seluruhnya menuju satu titik. Ketika semua materi terkumpul kian rapat, suhu akan meniggi. Akhirnya isi alam semesta saling membentur dan runtuh dengan dahsyatnya kearah dalam, yaitu mengalami remukan dahsyat (big crunch). Segalanya akan musah dan riwayat alam semesta tamat. Namun, peristiwa ini akan segerta diikutu oleh big bang baru, yang mengawali sejarah alam semesta baru pula.

Jumat, 12 Oktober 2012

Filsafat Ilmu menurut aliran Realisme


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Manusia dikenal sebagai makhluk berfikir. Dan hal inilah yang menjadikan manusia istimewa dibandingkan makhluk lainnya. Kemampuan berpikir atau daya nalar manusialah yang menyebabkannya mampu mengembangkan pengetahuan berfilsafatnya. Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, yang indah dan yang jelek. Secara terus menerus manusia diberikan berbagai pilihan. Dalam melakukan pilihan ini manusia berpegang pada filsafat atau pengetahuan.
Dengan berfilsafat manusia akan mampu mencintai kebijaksanaan, sehingga dengan hal itu manusia mampu menjadi insan yang sempurna, sebab dia bisa mengoptimalkan akal ini untuk berfikir.
Ciri – ciri dari filsafat adalah :
1.  Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
2.     Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jespers terletak pada aspek keumumannya.
3.     Konseptual, artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : Apakah Kebebasan itu ?
4.      Koheren atau konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5.     Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6.    Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
7.    Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan relijius.
8.    Bertanggungjawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang-orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.
Berpikir, meneliti dan menganalisa adalah proses awal dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan berpikir, seseorang sebenarnya tengah menempuh satu langkah untuk medapatkan pengetahuan yang baru. Aktivitas berpikir akan membuahkan pengetahuan jika disertai dengan meneliti dan menganalisa secara kritis terhadap suatu obyek.
Maka dari itu marilah kita berfikir dengan membahas bersama makalah Filsafat Ilmu ini yang membahas tentang aliran realisme.

B.       Rumusan Masalah
1.    Apakah definisi dari realisme?
2.    Bagaimanakah aliran filsafat realisme?
3.    Bagaimanakah pendidikan menurut aliran realisme?

C.      Tujuan
Tiada pengharapan yang lebih dari saya selaku tim penyusun dalam tujuan penulisan makalah ini, tetapi setidaknya saya memiliki tujuan yang konkrit dari penyusunan makalah ini, tujuan yang di harapkan di antaranya:
1.    Definisi dari realisme
2.    Aliran filsafat realisme
3.    Pendidikan menurut aliran realisme
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Definisi Realisme
Realisme adalah suatu bentuk yang dapat merepresentasikan kenyataan. Realisme terpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu tentang bagaimana dunia dikonstruksi dan disajikan secara sosial kepada dan oleh diri kita. Inti realisme dapat dipahami sebagai kajian tentang budaya sebagai praktik-praktik pemaknaan dari representasi. Hal ini berarti bahwa kita harus mempelajari asal-usul tekstual dari makna. Hal ini juga menuntut kita untuk meneliti cara-cara tentang bagaimana makna diproduksi dalam beragam konteks.
Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal, yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan. Dalam konteks ini, ilmuwan dapat saja menganalisa kategori fenomena-fenomena yang secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi secara langsung.
Tradisi realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata (realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia. Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi Kantianism fenonomologi sampai pendekatan struktural (Ibid, 2002). Mediasi bahasa dan kesadaran manusia yang bersifat nyata inilah yang menjadi ide dasar ‘Emile Durkheim’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Dalam area linguistik atau ilmu bahasa, de Saussure adalah salah satu tokoh yang terpengaruh mengadopsi pendekatan empirisme Durkheim. Bagi de Saussure, obyek penelitian bahasa yang diteliti diistilahkan sebagai ‘la langue’ yaitu simbol-simbol linguistic yang dapat diobservasi (Francis & Dinnen, 1996)
Ide-ide kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’ (Calhoun, 2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar, dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif yang diklaim oleh tradisi empirisme.
Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal, yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan. Dalam konteks ini, ilmuwan dapat saja menganalisa kategori fenomena-fenomena yang secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi secara langsung.
Tradisi realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata (realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia. Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi Kantianism fenonomologi sampai pendekatan struktural (Ibid, 2002). Mediasi bahasa dan kesadaran manusia yang bersifat nyata inilah yang menjadi ide dasar ‘Emile Durkheim’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Dalam area linguistik atau ilmu bahasa, de Saussure adalah salah satu tokoh yang terpengaruh mengadopsi pendekatan empirisme Durkheim. Bagi de Saussure, obyek penelitian bahasa yang diteliti diistilahkan sebagai ‘la langue’ yaitu simbol-simbol linguistic yang dapat diobservasi (Francis & Dinnen, 1996)
Ide-ide kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’ (Calhoun, 2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar, dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif yang diklaim oleh tradisi empirisme.

B.       Aliran Filsafat Realisme
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada inderawi yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya memberikam dua pengenalan. Pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratik yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jika itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi.
Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagat raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia. Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama “Akademia” yang paling didedikasikan kepada pahlawan yang bernama

C.      Pendidikan Menurut Aliran Realisme
Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran. Konsep filsafat menurut aliran realisme adalah: (1) Metafisika-realisme; Kenyataan yang sebenarnya hanyalah  kenyataan fisik (materialisme); kenyataan material dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari berbagai  kenyataan (pluralisme); (2) Humanologi-realisme; Hakekat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah organisme kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir; (3) Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan  memeriksa kesesuaiannya dengan fakta; (4) Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum alam yang diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.
Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang. Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya, di mana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang paling tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan pada peserta didik. Memberi kepuasan terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan strategi mengajar yang bermanfaat.
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan realisme adalah sebagai berikut: (1) Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial; (2) Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis; (3) Metode: Belajar tergantung pada pengalaman baik langsung atau tidak langsung. Metodenya harus logis dan psikologis. Metode pontiditioning (Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang digunakan; (4) Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin,  peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik; (5) Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.
Aliran Realisme adalah aliran filsafat yang memandang  realitas sebagai dualitas. Aliran realisme memandang dunia ini mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani. Hal ini berbeda dengan filsafat aliran idealisme yang bersifat monistis yang memandang hakikat dunia pada dunia spiritual semata. Dan juga berbeda dari aliran materialisme yang memandang hakikat kenyataan adalah kenyatan yang bersifat fisik semata. Realisme membagi realistas menjadi dua bagian yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan yang kedua adanya realita di luar manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Aliran realisme mempunyai berbagai macam bentuk yaitu realisme rasional, realisme naturalis dan realisme kritis. Realisme rasional juga masih terbagi dua yaitu realisme klasik dan realisme religius. Realisme klasik pertama kali dikembangkan oleh Aristoteles. Berikut ini kita bahas pendidikan menurut aliran realisme.
Berikut ini kita akan membahas konsep pendidikan mengenai pengertian pendidikan dan gambaran pendidikan menurut masing-masing bentuk aliran realisme.
a.       Realisme Rasional
Realisme klasik  berpandangan bahwa manusia sebenarnya memiliki ciri rasional. Dengan demikian manusia dapat menjangkau kebenaran umum. Eksistensi Tuhan merupakan penyebab pertama dan utama realistas alam semesta. Memperhatikan intelektual adalah penting bukan saja sebagai tujuan melainkan sebagai alat untuk memecahkan masalah. Menurut realisme klasik pengalaman manusia penting bagi pendidikan. Menurut Aristoteles, terdapat aturan moral universal yang diperoleh dengan akal dan mengikat manusia sebagai mahluk rasional. Manusia sempurna menurutnya adalah manusia sempurna yang mengambil jalan tengah. Konsep pendidikan pada anak bahwa anak harus diajarkan ukuran moral yang absolut dan universal karena baik dan benar adalah untuk seluruh umat manusia. Kebiasaan baik harus dipelajari karena kebaikan tidak datang dengan sendirinya
Sedangkan menurut realisme religius bahwa kenyataan itu dipandang berbentuk natural dan supernatural. Pandangan filsafat ini menitik beratkan pada hakikat kebenaran dan kebaikan. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri guna mencapai kebenaran abadi. Kebenaran bukan dibuat melainkan sudah ditentukan dan belajar harus mencerminkan kebenaran itu. Menurut Cornerius pendidikan harus universal, seragam dan merupakan suatu kewajiban dimulai dengan pendidikan yang lebih rendah.
b. Realisme Natural
Menurut realisme natural pengetahuan yang diakui adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris dengan jalan observasi atau pengamatan indera. Para pengikut realisme natural mengikuti teori pengatahuan empirisme yang mengatakan pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan dan merupakan sumber pengetahuan manusia.
Pendidikan berkaitan dengan dunia di sini dan sekarang. Dunia diatur oleh hukum alam. Pendidikan menurut aliran realisme natural haruslah ilimiah dan yang menjadi objeknya adalah kenyataan dalam alam.
c. Realisme kritis.
Menurut pandangan Breed filsafat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai pengarah terhadap tuntunan sosial dan individual. Menurut Imanuel Kant , pengetahuan mulai dari pengalaman namun tidak semiuanua dari pengalaman. Pikiran tanpa isi adalah kosong dan tanggapan tanpa konsepsi adalah buta.

Menurut Henderson ke semua bentuk aliran realisme pendidikan menyetujui bahwa
1.       Proses pendidikan berpusat pada tugas mengembangkan laki-laki dan wanita menjadi hebat
2.      Tugas manusia di dunia adalah memajukan keadilan dan kesejahteraan umum
3.       Tujuan akhir pendidikan adalah memecahkan masalah-masalah pendidikan.








BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.      Realisme adalah suatu bentuk yang dapat merepresentasikan kenyataan. Aliran Realisme adalah aliran filsafat yang memandang  realitas sebagai dualitas.
2.      Aliran filsafat realisme menurut Plato ada tiga ajaran pokok yaitu idea, jiwa dan proses mengenal.
3.      Pendidikan menurut aliran realisme ada tiga aliran yaitu realisme rasional, realisme natural, dan realisme kritis.
B.       Saran
Sudah selayaknya kita mengoptimalkan akal ini untuk berfikir, jangan sampai kita terus memanjakan akal ini dengan berfikir hal – hal yang mudah, sekali – kali marilah kita belajar Filsafat, agar akal ini mampu berkembang dan berfikir secara dalam. Ingatlah perkataan dari KH. Abdul Rahmat bahwa seorang pahlawan itu adalah orang yang mampu berfikir secara dalam dan mempunyai pandangan yang luas.












DAFTAR PUSTAKA